Tag Archives: nafsiyah

Menjaga Lisan dengan Akal

Sayyidina ‘Ali –Karramallahu wajhah– berkata: Jika (seseorang) sempurna akalnya, maka ia akan sedikit bicaranya.. Bagi orang berakal, lisan (omongan)-nya berada di belakang akalnya. Namun bagi orang bodoh, akal (pikiran/hati)-nya berada di belakang lisannya… Lisan itu bagaikan serigala, jika bisa selamat darinya, maka akan selamat.. Akal akan menjaga pengalaman dan sebaik-baik pengalamanmu adalah apa yang bisa… Read More »

Memoar Seorang Tahanan Politik Aktivis Hizbut Tahrir Bernama Muhammad Yang Baru Berumur 16 Tahun

Berikut ini adalah peristiwa yang menimpa saya selama berada dalam penjara Otoritas yang zalim dan biadab: Setelah menyebarkan pernyataan yang dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir berjudul, “Otorita Palestina Yang Tunduk Kepada Yahudi Menculik Dan Mengadili Para Aktivis Hizbut Tahrir“, pada hari Sabtu, 23/1/2010, saya pulang ke rumah. Dan sebelum saya sampai, aparat keamanan Abbas sudah sampai… Read More »

Tidak Panjang Angan-angan

Orang berakal adalah yang tidak panjang angan-angannya. Karena, siapa saja yang kuat angan-angannya, maka amalnya lemah. Siapa saja yang dijemput ajalnya, maka angan-angannya pun tidak ada gunanya. Orang berakal tidak akan meninggal tanpa bekal; berdebat tanpa hujah dan berbenturan tanpa kekuatan. Dengan akal, jiwa akan hidup; hati akan terang; urusan akan berjalan dan dunia akan… Read More »

Berhati-hati Dalam Perbuatan

Imam Abu Hanifah pernah memberi nasihat kepada anak kecil: “Hati-hatilah, agar kamu tidak jatuh ke lumpur.” Anak kecil itupun membalas nasihat Imam besar itu dengan nasihat: “Hati-hatilah Anda, agar Anda juga tidak terjatuh, karena kalau orang alim yang jatuh bisa membuat dunia pun jatuh.” Setelah itu, beliau pun tidak berani mengeluarkan fatwa, kecuali setelah mempelajarinya… Read More »

Ilmu dan Adab

Abu Zakaria al-Anbari berkata: Ilmu tanpa adab bagaikan api tanpa kayu bakar. Adab tanpa ilmu bagaikan ruh tanpa jasad (Imam as-Sam’ani, Adab al-Imla’ wa al-Istimla’; al-Khathib al-Baghdadi, Kitab al-Jami’, juz I, hal 17). Maka, ilmu dan adab harus menyatu dalam diri Muslim, dan semestinya semakin berilmu, harus semakin beradab. http://hizbut-tahrir.or.id/2010/02/21/nafais-tsamarat-ilmu-dan-adab/

Allah Memuliakanmu dengan Islam

Abu Ubaidah menasihati ‘Umar: Wahai Amir al-Mu’minin, Anda akan bertemu dengan para pemuka masyarakat, sementara apa yang tampak (pada penampilan Anda) kurang bagus. Amir al-Mu’minin, Umar bin Khatthab, balik menasihati Abu Ubaidah al-Jarrah: Allah telah memuliakan kamu dengan Islam, maka kalau kamu mencari kemuliaan pada yang lain, pasti Dia akan menghinakan kamu — Ibn al-Jauzi,… Read More »

Amal yang Tidak Ikhlas

Amal yang tidak ikhlas, dan tidak mengikuti tuntunan (Nabi SAW), bagaikan seorang musafir yang bepergian, kantongnya penuh dengan kerikil, memberatkan dirinya, tetapi tidak memberikan manfaat apapun kepadanya — Ibn al-Qayyim al-Jauziyah, al-Fawaid, hal. 30. http://hizbut-tahrir.or.id/2010/03/23/nafais-tsamarat-amal-yang-tidak-ikhlas/

Banyak Penguasa yang Bekerja dengan Hawa Nafsu dan Pandangannya

Imam Ahmad berkata: Ketika Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW, Allah SWT mengutusnya dengan manhaj yang lurus dan adab yang bagus. Para sahabatnya dan tabi’in pun mengikuti jalannya. Kemudian masuk penyakit dan bid’ah. Betapa banyak penguasa yang bekerja dengan hawa nafsu dan pandangannya, bukan dengan ilmu. Lalu mereka sebut itu sebagai politik. Padahal, politik itu… Read More »

Janganlah Bersikap Im’ah

Abdullah ibn Mas’ud berkata: “Janganlah salah seorang di antara kalian bersikap im’ah! ” Mereka bertanya: “Im’ah itu apa wahai Abu Abdirrahman? Beliau berkata: Jika seorang mengatakan, Aku selalu mengikuti orang; jika mereka mendapat hidayah, akupun mendapatkannya; jika mereka tersesat, aku pun sama. Hendaknya kalian meneguhkan dirinya; jika orang menjadi kafir  dia tidak ikut kufur.” [Abu… Read More »

Kebenaran Tidak Diketahui dari Tokohnya

Al Harits bin Hauth berkata kepada Ali: “Apakah Anda mengira, kami menganggap Thalhah dan az-Zubair berada dalam kebathilan (saat Perang Jamal)? Maka ALi radhiya-Llahu ‘anhu menjawab: Wahai Harits (tampaknya) itu masih kabur bagimu. Sesungguhnya kebenaran tidak diketahui dari tokoh (rijal)-nya, tetapi kenalilah kebenaran itu sendiri, maka kamu akan mengetahui orangnya.” (Al Qurthubi, al-Jami’, Juz I/340)… Read More »